Just opinion 

Citizens from Syria, Sudan, Iran, Iraq, Yemen, Somalia and Libya have been banned from the US for 90 days under controversial security measures implemented by Donald Trump. 

That’s what almost every news been telling us lately. But those countries aren’t the country with the most populated Muslim in the world. According to PEW Research Center, Indonesia is number 1 but as you can see, we don’t get the banned. So, why? Is it because of the uncle Sam is afraid that we will kick out the Freeport from our country? 

Then again Mr. Trump said that the US isn’t against Muslims but against terrorism. So, the next question is why you banned those people who have the green card?  I mean, the government of the United States has the rigid rules to give the green card. It’s not like they give it to whoever they want without checking them out. 

Advertisements

Does the Consumer is the King? 

There’s a phrase that “consumers are the king”. It’s happening because the marketers believe that if the consumer is satisfied, then they will spread the words and do the repurchase. Companies make profits from the purchase of their products. They are also trying to produce products based on what’s their customer’s taste. 

However, I guess it’s not what happened in Indonesia. Once,  I bought 20 pieces of cake from a famous bakery in the city. I came and asked politely with a smile if they have the cake that  I want to buy. But she was ignoring me and said that I should looking for the cake all by myself! I was like,”Okay, maybe she’s tired because she’s just a human.” So, I started to search for the cakes. 

Sadly, they run out of the cakes. So, I’m going to buy another cakes. There’s no price tag on the window. So, I started to look for help from the waiters. You know what? All of the waiter went to the area where you can find “Employees only!!!”  written over the door! 

I was still in a positive mode and thought that maybe they are busy moving the cakes from the kitchen to the store. I waited for more than 10 minutes and I started to knock the window. I kept telling, “excuse me!” and for the 20th time one of the waiter came. 

She’s the one who was telling me to look for the cake all by myself. I still asked politely for the price of the cake and she answered arrogantly how much the price is! I was still trying to be patient but when I asked her to packed 20 pieces of the cake for me she said that they don’t have it! God, the cakes is in front of her face! It’s not reserved and she didn’t want to sell it to me? 

Do you know what the worse is? Once I want to payed the bill, she didn’t give the package to me! She called out her co-worker, asked her to give me the package, and she left without a second glance at me! Now, I don’t think that Indonesian bakeries do their consumers politely. She was just wasting my time! 

-Fatsav 

Wanita 

​Pernah aku bertanya pada seseorang 

Apa arti wanita bagimu? 

Dia menunduk dan terdiam 

Kerutan didahinya menggambarkan usaha berpikirnya

Wanita, seberapa sulit menggambarkan sosok yang paling sering ditemui oleh semua orang? 

Aku tak tahu pasti apa yang berkecamuk dalam benaknya 

Dan saat ia menatap mataku dan mulai berucap, dunia seolah mengejekku 

“Wanita adalah sosok yang lebih kuat dibandingkan pria. Walau terkadang mereka menangis, mereka lebih cepat untuk bangkit lagi. Mereka suka mengeluh, tapi bukan berarti mereka sedang marah. Wanita adalah sosok yang pemberani, penuh kasih sayang, kelembutan, dan cinta.”

-Fatsav 

Curhatan 

Hallo semua! Apa kabar kalian? Sudah lama saya gak posting disini. Saya mau kasih kabar dulu kalau kemarin tepatnya tanggal 14/1/2017, saya baru saja menjalani ujian pendadaran. Saya juga sudah mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-teman saya. Jadi, menurut kalian bagaimana perasaan saya saat ini? Bahagia? Berbunga-bunga? Kalau itu yang ada dibenak kalian, maka tebakkan kalian itu salah. Saat keluar dari ruang ujian jujur saya takut. Saya merasa hopeless dan sangat bodoh. Padahal saya dapat melalui ujian seminar proposal tanpa ada halangan. Waktu itu saya dinyatakan lulus tanpa syarat dan bodohnya saya karena ada sebersit rasa bangga di hati ini. Sedangkan kondisi sekarang seperti menertawakan semua rasa bangga yang sempat hinggap di hati ini. Sebenarnya jika saya melakukan flashback, semua rasa bangga itu bukanlah kesalahan saya sepenuhnya. Orang tua saya hanya memiliki dua anak perempuan yang selalu berusaha membuat mereka bangga. Mereka tak pernah memaksa kami untuk jadi yang terbaik tapi entah mengapa kami selalu merasa bahwa kami harus membuat mereka bangga terutama dalam bidang akademik hingga orang-orang mulai mengenal kami sebagai anak-anak yang pandai. Dikenal dengan julukan itu membuat saya lupa akan hal lain dan menjadi sosok yang hanya mengutamakan prestasi tersebut.

Saya tahu bahwa semua hal dalam hidup itu terjadi karena kuasa dari Allah tapi Allah sendiri juga berfirman bahwa Ia tak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa adanya usaha dari kaum tersebut. Selain itu, saya hanyalah manusia biasa yang masih memiliki perasaan sombong di hatinya jadi, saya rasa munculnya sedikit rasa itu adalah hal yang bisa dikatakan sangat wajar terjadi. Okay, kembali pada situasi saat saya sidang, seperti yang sudah saya katakan saya merasa menjadi orang paling bodoh. Tidak semua pertanyaan yang terlempar dari dosen penguji dapat saya jawab. Bahkan dosen pembimbing saya sampai mengatakan,”What are you doing over there? If you aren’t ready yet, we can reschedule this!“Dan saat itu saya benar-benar hopeless. 

Layaknya ujian skripsi pada umumnya, selesai diuji saya disuruh menunggu hasil ujian itu. Teman-teman saya yang hadir cukup supportive dengan memberikan kalimat-kalimat yang menenangkan hingga akhirnya saya benar-benar pasrah. Singkat cerita, saat saya dipanggil untuk mengetahui hasilnya, ketua penguji saya mengawali percakapan dengan permintaan maaf dan penjelasan kalau pertanyaan-pertanyaan tajam itu adalah bagian dari ujian ini selanjutnya beliau menanyakan arti nama saya diiringi sedikit candaan, mungkin untuk mencairkan suasana. Jujur saya bingung kenapa beliau meminta maaf padahal sudah jelas dalam kondisi tersebut saya yang salah karena saya kurang memperhatikan bab 2 dan lebih perhatian pada metode penelitian. Saya yang bodoh karena saya menjadi sosok yang terlalu percaya diri. 

Dan saat beliau menanyakan pendapat saya terkait kelulusan saya, dengan yakin saya jawab bahwa saya akan lulus walaupun saya tidak bisa mengutarakan alasannya. Mungkin saya terkesan terlalu percaya diri atau sombong tapi sebenarnya saya yakin karena saya telah menyerahkan segala urusan saya kepada Tuhan saya. Saya percaya bahwa Tuhan saya selalu membantu hambanya. Saya tahu bahwa Tuhan saya tidak akan mempersulit hambanya yang sedang berusaha. Jadi, saat saya dinyatakan lulus bersyarat, saya hanya dapat berucap alhamdulillah dan bersyukur pada Tuhan saya. 

-Fatsav 

Indonesia Tanah Air Beta

Kalau belum bisa membanggakan negerimu, setidaknya jangan mempermalukan negeri ini.

Baru saja buka Facebook dan saya melihat suatu postingan. Teman saya menulis status seperti yang ada di foto. Intinya dia mau bilang kalau masyarakat Indonesia itu jangan minder walaupun masih dianggap sebagai negara yang “kurang sukses” dibandingkan negara lain. Dia menyertakan beberapa alasan kenapa kita gak boleh minder. Dan setelah membaca status itu saya jadi berpikir:

1. Orang luar negeri itu lebih bangga pakai produk dari perusahaan dalam negerinya atau kalau bahasa populernya itu produk dalam negeri. Karena sebenernya mereka gak pakai produk jadul Nokia tapi lebih banyak yang pakai produk dari Apple. Sedangkan masyarakat Indonesia? Mereka terkesan skeptis dengan kualitas produk dalam negeri dan lebih bangga saat mereka memiliki produk yang dihasilkan oleh negara lain itu. 

2. Orang luar negeri itu lebih paham arti dari kebutuhan dan keinginan. Karena mereka jarang banget membelanjakan uangnya melebihi pendapatannya. And as you can see, dalam status itu juga disebut kalau kuli bangunan/tukang becak pada pakai smartphone. Which is menjadi hal yang dibanggakan dalam status tersebut. 

3. Orang luar negeri emang lebih milih untuk berjalan kaki/naik sepeda/public transportation di saat Indonesia semakin macet dan berpolusi. 

4. Orang luar negeri lebih menghargai kegunaan suatu barang sedangkan orang Indonesia hanya tahu cara bergaya. Mulai dari tas branded harga jutaan sampai jam tangan yang harganya juga selangit. 

5. Orang luar negeri itu buang sampah pada tempatnya. Nah, orang Indonesia buang sampah pada tempatnya kalau lagi di negara orang. 

6. Orang luar negeri gak protes waktu pemerintah mereka menerapkan aturan plastic berbayar dan mereka akhirnya lebih suka belanja pakai goodie bag atau kertas belanja. Sedangkan orang Indonesia ada peraturan kayak gitu bukanya mendukung malah gak ngaruh. Selain itu, juga banyak yang ngomel karena barang yang menurut mereka remeh dan murah itu bukan jadi hal yang gratis lagi.

7. Orang luar negeri lebih milih bunuh diri daripada membuat negaranya malu. Orang Indonesia lebih suka menganggap negaranya sendiri sebelah mata bahkan saat ada orang Indonesia yang ingin memajukan negerinya. 

Nah, setelah memikirkan hal-hal diatas saya jadi mikir lagi. Sebenernya Indonesia bisa sih maju melebihi negara-negara yang dianggap paling maju itu, tapi sayangnya SDM negara ini tak mau menjadikan negara ini lebih. Mereka terlalu nyaman dan bangga dengan keadaan “jajahan” ini. Mereka terlalu terlena dalam pemikiran dan standar yang mereka tentukan sendiri. 

Mau contoh kecil yang nyata? Orang Indonesia terutama para remajanya merasa lebih bangga dan bahagia saat mereka mengetahui budaya Korea, Jepang, atau negara lain. Mereka merasa gaul saat mereka menirukan budaya negara asing itu daripada melestarikan budaya nenek moyangnya. Dan saat ada negara yang mengatakan budaya Indonesia adalah milik negara itu, mereka akan berbondong-bondong melakukan aksi demo. Sekarang saya jadi benar-benar bingung. Kalau kalian sendiri lebih memilih untuk melestarikan budaya asing, kenapa kalian tidak membiarkan orang asing itu melestarikan budaya kalian? Toh, sepertinya mereka lebih cinta pada negeri ini dibandingkan kalian. 

Jadi, masih berpikiran kalau negara kalian ini lebih hebat saat kalian sendiri memandangnya sebelah mata? Masih berharap mendapatkan lebih saat kalian tak mau membantu sedikit saja untuk kemajuan negeri ini? Ingat kawan! Bahkan orang luar negeri itu juga mengakui kualitas budaya maupun produk dari negara ini. Sedangkan kalian? 

Curhatan ini bukan bermaksud untuk menghakimi siapapun karena saya juga punya keyakinan tiap individu itu beda dan walaupun suatu kaum di cap baik/jelek bukan berarti semua individu dalam kaum itu sama. Tapi setidaknya tulisan ini bisa dijadikan pertimbangan sebelum kalian menyalahkan atau menghina negeri kalian sendiri. 

-Fatsav 

Duniaku 

Selamat datang! 

Didunia dimana kau bebas berbicara

Asal jujur dan beretika 

Dunia yang mewajibkanmu melihat dari dua sudut berbeda 

Mungkin orang akan menganggapmu kejam

Karena kata-kata tulisanmu yang tajam 

Atau mungkin kau kan dikecam 

Layaknya Copernicus dengan teori heliocentric-nya

Tapi setidaknya orang akan mengenalmu karena karyamu

-Fatsav 

A Stranger 

He is  a stranger 

But seems like I’ve known him forever 

He is a stranger 

But seems like he cares the most about me 

He is a stranger 

The one you’ve never seen before 

He is a stranger 

But he wasted his time with me 

He is a stranger 

But he is listening to my unnecessary complaints 

He is a stranger 

But he did anything for me 

He is a stranger 

But he said that he falls for me 

-Fatsav 

Wondering 

It’s been so long since the last time I met you 

And now I still wonder how to forget you 

It’s been so long since the last time we talked 

And still I wonder how much I love you 

It’s been so long since the last time we said our goodbye

And still I wonder why my tears don’t want to stop

It’s been so long since the last time we’re together 

And still I wonder if we could turn back the time again 

-Fatsav