Toleransi Bukan Berarti Mengamini 

​Beberapa orang merasa dirinya paling benar dan toleransi adalah tolak ukurnya. Mereka menganggap bahwa semua yang didapat adalah bagian dari warisan orang tuanya atau mungkin  budayanya. Mungkin kalau dia berkata bahwa dia menjadi bagian dari ras tertentu karena orang tuanya, maka akan saya katakan bahwa dia benar. Karena ras, gen, golongan darah itu memang diturunkan dari orang tua pada anak-anak mereka. Namun, saat ia mulai mengatakan hal seperti:

“Saya adalah orang Islam karena saya terlahir dari keluarga yang menganut agama Islam.”

Well, jika umur kamu masih dibawah 17 tahun, mungkin saya hanya akan tertawa melihat tingkahmu karena usia anak-anak memang masih labil. Tapi jika usiamu sudah cukup untuk berpikir logis dan kamu masih beranggapan seperti itu, mungkin kamu belum paham arti dirimu sebagai individu. Agama adalah suatu keyakinan yang dijamin kebebasannya diseluruh dunia. Terserah kamu mau jadi orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, atau bahkan seorang atheist. Tidak akan ada yang melarangmu karena seperti yang sudah saya katakan, itu semua adalah hak individu. Bahkan agama Islam juga tidak pernah memaksa umat Islam untuk menjadi orang Islam. Ingat Alqur’an surat Alkafirun ayat 6? Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Hanya sesederhana itu tak perlu diperluas karena memang maknanya sudah jelas. 

Jika kamu mengatakan bahwa kamu sudah didoktrin dari kecil atau mungkin saat masih dalam kandungan dengan agama tertentu sehingga kamu merasa bahwa itu adalah hal yang benar dan yang lain salah maka, kenapa masih membenarkan apa yang selama ini kamu yakini? Jika kamu mulai meragu dengan apa yang kamu percaya selama ini maka, kamu bisa mulai mempelajari semuanya dari awal. Kamu tidak perlu terkungkung dalam jerat suatu kepercayaan jika menurutmu hal itu bukanlah suatu hal yang baik. Zaman ini adalah era digital dimana kamu bisa mengakses segalanya dengan mudah. Kamu bisa mulai mempelajari kepercayaan agama lain dan menentukan pemikiranmu sendiri. Atau mungkin kamu takut jika kamu memilih yang lain maka, semua orang dilingkunganmu akan menghujatmu? Itu mungkin karena setiap keputusan akan menimbulkan konsekuensi. 

Tapi jika boleh saya bertanya, kenapa kamu katakan bahwa kamu percaya pada Tuhanmu tapi disisi lain, kamu katakan bahwa yang lain juga benar? Padahal jika kamu benar-benar mempelajari agama lainnya maka, kamu akan melihat adanya perbedaan mendasar disana. 

Mungkin kamu mulai merasa dirimu sebagai sosok paling benar, tapi maaf karena saya mulai merasakan adanya kesombongan dalam tutur katamu.

Bertoleransi menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki makna bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Saya akan berikan garis bawah atau bahkan mem-bold kata menghargai yang berbeda bukan membenarkan yang berbeda. Selama ini saya bersahabat baik dengan orang-orang non-Muslim dan saya rasa kami cukup toleran. Mereka menghargai saya yang menjalankan agama saya dan saya menghargai mereka yang menjalankan agamanya. 

Islam mengajarkan toleransi antar umat manusia.  Kita diwajibkan untuk menghargai bukan mengamini kepercayaan yang lain. 

Jika ada oknum yang membuat salah satu agama merasa terusik dengan apa yang ia lakukan maka, saya rasa wajar bila negara menjalankan kewajibannya untuk menghukumnya. Semua itu ada didalam konstitusi negara ini (UUD 1945) yang sudah disusun oleh para pendahulu bangsa. Pasal 28E ayat 2 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu, dalam pasal 28I ayat 1 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya, pasal 29 ayat 2 juga menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. Serta dalam pasal 28J ayat 1 diatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. 

Saya rasa masyarakat Indonesia sudah cukup toleran karena mereka tidak saling menghujat karena selama ini saya belum pernah mendengar ada yang dihujat karena agama tapi karena ras walaupun dalam bentuk serius atau candaan. Bila ditempat anda terjadi saling menghujat karena agama, saya rasa itu karena individu dilingkungan anda sendiri. Karena sepengetahuan saya di Indonesia tidak terjadi hal serupa di negara lain yang sampai memboikot agama tertentu. 

Sekarang saat semua sudah dijalankan sebagaimana mestinya, saya rasa sudah waktunya untuk menutup kasus lama dan berpindah ke hal lain guna membangun negeri ini. Bukannya mengkritisi apa yang belum tentu kamu pahami hingga akhirnya memperkeruh suasana hati yang lain. Jangan termakan pujian karena belum tentu itu akan menyelamatkanmu dihadapan Ilahi nantinya.

 Maaf jika tulisan ini menyinggung  pihak manapun karena seperti yang lain saya hanya ingin berpendapat. 

-Fatsav 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s