Saham Bukan Judi

Di Indonesia, khususnya di Solo masih banyak orang yang berpikiran bahwa saham merupakan hal yang haram. Tapi untuk sebagian yang lain menganggap bahwa saham syariah sudah pasti halal. Kenapa? Karena ada lembaga yang bisa dikatakan “menjamin” tentang hal itu. Sekarang, coba kita lebih perjelas tentang kehalalan perdagangan saham.

Saat seseorang ingin membeli saham, ia berpikir bahwa hal itu haram karena katanya main saham itu gak pasti. Hal yang gak pasti dianggap bertentangan dengan salah satu prinsip syariah yakni gharar. Sementara itu, saat seseorang membeli suatu franchise makanan halal misalnya seperti makanan atau air minum kemasan ataupun membuka usaha baru yang sejenis dan usahanya merupakan usaha yang halal, maka usaha itu disebut halal.

Nah, sekarang bila saya tanya gimana caranya kita tahu kalau usaha itu halal padahal kalian juga belum tahu gimana usaha kalian nantinya? Bukankah itu sama dengan spekulasi? Dan saat kalian memberikan jawaban seperti, “kan udah ada ramalan penjualan dari penjualan yang lalu” atau “kan emang usahanya halal gak ada unsur gak halalnya” atau “kan kita udah tahu prospeknya dari perusahaan lain yang buka usaha sama kayak kita.” Bukankah semua jawaban itu menuju kearah spekulasi alias gak pasti? Kan belum tentu usaha orang lain akan sukses saat kalian mengerjakannya. Dan saat pedoman kalian adalah laporan keuangan perusahaan membuat forecasting usaha yang akan Anda buat menjadi lebih baik dibandingkan saham, maka Anda salah karena trading saham suatu perusahaan juga berdasarkan dari kondisi perusahaan.

Layaknya pasar biasa, pasar modal terutama yang syariah merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang memperdagangkan saham. Pembeli dan penjual akan bertemu untuk melaksanakan akad jual beli juga. Dan barangnya adalah barang yang pasti bukan gak ada barangnya.

Sebagian orang lagi menganggap bahwa karena ada istilah short selling, maka saham itu menjadi haram. Untuk kategori ini bisa dibilang jika jawabannya benar. Tapi sebagian orang masih saja berpikiran bahwa short selling itu kita beli barang dan dalam waktu singkat langsung kita jual. Nah, kalau pemikirannya seperti itu, sama aja kita anggap pedagang sayur itu haram karena dia beli sekitar pukul 4 hingga 5 pagi dan dijual mulai pukul 6 atau 7 pagi. Padahal short selling sebenarnya adalah cara dimana investor menjual saham milik orang lain dengan harga tinggi. Ia juga memiliki harapan bisa membeli kembali dan mengembalikan saham yang sudah dipinjamnya ke pialang saham saat harga saham itu turun. Dengan kata lain, dia berhutang pada pialang saham karena menjual barang yang bukan miliknya dan spekulasinya sangat tinggi. Makanya, kedua hal itu bikin istilah short selling gak halal.

Sebenarnya saat seseorang memutuskan untuk mulai berinvestasi dipasar modal, dia harus yakin dulu dengan keputusannya sama seperti saat dia ingin membeli sepasang sepatu. Selain itu, dia juga harus tahu apa yang dia mau layaknya beli sepatu untuk pergi pesta atau sekedar jalan di mall. Investor juga harus tahu sebenarnya dia itu risk lovers atau bukan. Karena seperti juga saat membeli sepatu, akan terlihat aneh jika ukuran yang dipakai itu kekecilan maupun kebesaran. Jadi, kenali tingkat resiko yang menurut Anda bisa Anda terima. Actually, pasar modal itu real dimana demand dan supply selalu ada dan barangnya pun ada dalam bentuk portofolio saham. Sehingga bisa kita bilang jika pasar modal itu membawa kebaikan tapi yang perlu diperhatikan lagi adalah apa yang Anda butuhkan.

Jika Anda adalah tipe orang yang suka bermain resiko, beli saja saham yang memiliki keuntungan tinggi. Hal itu sama saja dengan orang yang suka memakai heels ke pesta selama berjam-jam tanpa memedulikan kondisinya esok pagi. Dan jika menurut Anda pasar modal itu haram, walaupun sudah ada yang menjamin nama ‘syariah’ maka, Anda bisa berpindah ke usaha lain seperti berdagang pakaian misalnya. Toh, semua yang menjalankan adalah Anda. Tapi saran saya adalah jika Anda mau terjun ke dalam dunia pasar modal, pelajari dulu sistemnya. Jangan pernah sungkan untuk bertanya pada yang lebih tahu jika Anda masih bingung karena saat Anda mengenakan heels yang cukup tinggi untuk datang ke suatu pesta lalu Anda tergelincir dan heels Anda patah, mungkin resikonya telapak kaki Anda bisa retak atau mungkin lebih buruk. Sama halnya dengan saham. Saat Anda buta tentang pasar modal baik itu syariah maupun konvensional dan Anda nekat untuk terjun kedalamnya tanpa ada niatan belajar, mungkin kerugian yang akan lebih sering menyapa Anda apalagi jika niat awal Anda adalah trading bukan investasi.

 

                                      -fatsav-

Indosat Sangat Mengecewakan

Jadi, ceritanya saya baru kembali dari luar kota dan tiba-tiba ayah saya komplain karena hpnya gak bisa digunakan untuk menelepon padahal siangnya sempat menelepon saya dengan nomor itu. Akhirnya saya mencoba untuk menghubungi customer service dari indosat. Mulai dari 222, 100, 185, 111, (021) 30003000, dan nomor gerai indosat di Surakarta (saya tanya melalui 108). Tapi hasilnya adalah nol besar. Tidak ada satupun yang menjawab hingga detik ini. 

Akhirnya tadi pagi saya memutuskan untuk browsing tentang CS indosat dan menemukan salah satu postingan yang menyertakan email dari CS indosat. Saya pun mencoba untuk menghubungi customer service lewat email. Butuh waktu lebih dari 3 jam untuk mendapatkan jawaban dari CS melalui email. Jawabannya? Dengan mudah CS memberitahukan bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif jadi, silahkan beli nomor baru. 

Jujur saya jengah sama sikap indosat. Mereka seperti tidak menghargai loyalitas konsumennya. Padahal konsumen yang ada sudah setia dengan provider ini lebih dari 15 tahun dan pulsa yang ada juga masih lebih dari Rp100rb. Tapi mereka dengan gampangnya bilang beli saja nomor perdana lain yang baru saat saya berusaha untuk bertanya lewat email. Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan:

Jika mereka saja tidak mau memperhatikan kebutuhan konsumennya dan bertingkah seperti itu, buat apa konsumennya setia? Mending juga pindah ke provider lain yang lebih murah.