Curhatan 

Hallo semua! Apa kabar kalian? Sudah lama saya gak posting disini. Saya mau kasih kabar dulu kalau kemarin tepatnya tanggal 14/1/2017, saya baru saja menjalani ujian pendadaran. Saya juga sudah mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-teman saya. Jadi, menurut kalian bagaimana perasaan saya saat ini? Bahagia? Berbunga-bunga? Kalau itu yang ada dibenak kalian, maka tebakkan kalian itu salah. Saat keluar dari ruang ujian jujur saya takut. Saya merasa hopeless dan sangat bodoh. Padahal saya dapat melalui ujian seminar proposal tanpa ada halangan. Waktu itu saya dinyatakan lulus tanpa syarat dan bodohnya saya karena ada sebersit rasa bangga di hati ini. Sedangkan kondisi sekarang seperti menertawakan semua rasa bangga yang sempat hinggap di hati ini. Sebenarnya jika saya melakukan flashback, semua rasa bangga itu bukanlah kesalahan saya sepenuhnya. Orang tua saya hanya memiliki dua anak perempuan yang selalu berusaha membuat mereka bangga. Mereka tak pernah memaksa kami untuk jadi yang terbaik tapi entah mengapa kami selalu merasa bahwa kami harus membuat mereka bangga terutama dalam bidang akademik hingga orang-orang mulai mengenal kami sebagai anak-anak yang pandai. Dikenal dengan julukan itu membuat saya lupa akan hal lain dan menjadi sosok yang hanya mengutamakan prestasi tersebut.

Saya tahu bahwa semua hal dalam hidup itu terjadi karena kuasa dari Allah tapi Allah sendiri juga berfirman bahwa Ia tak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa adanya usaha dari kaum tersebut. Selain itu, saya hanyalah manusia biasa yang masih memiliki perasaan sombong di hatinya jadi, saya rasa munculnya sedikit rasa itu adalah hal yang bisa dikatakan sangat wajar terjadi. Okay, kembali pada situasi saat saya sidang, seperti yang sudah saya katakan saya merasa menjadi orang paling bodoh. Tidak semua pertanyaan yang terlempar dari dosen penguji dapat saya jawab. Bahkan dosen pembimbing saya sampai mengatakan,”What are you doing over there? If you aren’t ready yet, we can reschedule this!“Dan saat itu saya benar-benar hopeless. 

Layaknya ujian skripsi pada umumnya, selesai diuji saya disuruh menunggu hasil ujian itu. Teman-teman saya yang hadir cukup supportive dengan memberikan kalimat-kalimat yang menenangkan hingga akhirnya saya benar-benar pasrah. Singkat cerita, saat saya dipanggil untuk mengetahui hasilnya, ketua penguji saya mengawali percakapan dengan permintaan maaf dan penjelasan kalau pertanyaan-pertanyaan tajam itu adalah bagian dari ujian ini selanjutnya beliau menanyakan arti nama saya diiringi sedikit candaan, mungkin untuk mencairkan suasana. Jujur saya bingung kenapa beliau meminta maaf padahal sudah jelas dalam kondisi tersebut saya yang salah karena saya kurang memperhatikan bab 2 dan lebih perhatian pada metode penelitian. Saya yang bodoh karena saya menjadi sosok yang terlalu percaya diri. 

Dan saat beliau menanyakan pendapat saya terkait kelulusan saya, dengan yakin saya jawab bahwa saya akan lulus walaupun saya tidak bisa mengutarakan alasannya. Mungkin saya terkesan terlalu percaya diri atau sombong tapi sebenarnya saya yakin karena saya telah menyerahkan segala urusan saya kepada Tuhan saya. Saya percaya bahwa Tuhan saya selalu membantu hambanya. Saya tahu bahwa Tuhan saya tidak akan mempersulit hambanya yang sedang berusaha. Jadi, saat saya dinyatakan lulus bersyarat, saya hanya dapat berucap alhamdulillah dan bersyukur pada Tuhan saya. 

-Fatsav 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s